Pusat barcode dan point of sale indonesia

Daya Saing Jatim Rendah

June 12, 2009 · Leave a Comment

PUSATBARCODE :

95 Persen Proyek Swasta Digarap Kontraktor Luar

SURABAYA [Jum'at, 12 Juni 2009] – Proyek-proyek besar sektor properti milik swasta di Jatim nyaris tidak ada yang bisa dinikmati kontraktor lokal provinsi ini. Kalau pun ada, jumlahnya tidak lebih dari lima persen.

Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Daerah Jatim Erlangga Satriagung, kondisi itu terjadi karena rendahnya daya saing dan minimnya sumber daya yang dimiliki. “Lemahnya daya saing juga terjadi karena minimnya keberanian para kontraktor di Jatim untuk ikut dalam tender proyek-proyek besar,” kata Erlangga dalam Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) LPJK Daerah Jatim di Hotel Mercure Grand Mirama kemarin (11/6).

Dia menambahkan, kontraktor lokal lebih banyak menunggu proyek-proyek pemerintah yang nilainya juga tidak seberapa besar. Sedangkan proyek pemerintah yang nilainya besar tetap digarap kontraktor luar Jatim.

Saat ini, di Jatim terdapat 16.281 badan usaha konstruksi yang terdaftar di LPJK. Sebanyak 15.355 atau 95,4 persen ada di tingkat kualifikasi kecil. Sisanya 925 badan usaha berkualifikasi besar. “Mayoritas menggarap proyek general atau tidak spesialis jenis tertentu,” ujarnya.

Kurangnya daya saing itu juga diindikasikan dari minimnya jumlah tenaga ahli besertifikat di Jatim. Dari total 10.026 tenaga ahli yang tercatat di LPJK, hanya 2.538 orang yang mengikuti uji kompetensi.

Begitu juga dengan tenaga terampil. Sejak 2004 hingga 2008, sebanyak 44.297 orang mengikuti kompetensi kumulatif, atau 8.858 orang per tahun. Parahnya, catatan akhir 2008 menunjukkan bahwa jumlah tenaga terampil besertifikat menyusut menjadi 23.024 orang. Itu terjadi karena ada yang berpindah tempat, meninggal, atau pun tidak memperbarui uji kompetensi. “Di Jatim sendiri membutuhkan 815 ribu tenaga ahli maupun terampil per tahun. Jadi, tenaga yang ada masih jauh dari cukup,” terang Erlangga.

Dia menjelaskan, sebenarnya di Jatim sangat banyak tenaga ahli atau pun terampil, namun belum besertifikat. Artinya, mereka bekerja tanpa ada pengakuan kualitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mendongkrak citra maupun daya saing perusahaan konstruksi. “Jika itu terus terjadi, kami khawatir badan usaha konstruksi Jatim akan semakin terpuruk saat kontraktor asing masuk,” katanya. (luq/fat)

Disadur dari : JawaPos

→ Leave a CommentCategories: Buying Guide · POS Peripherals · barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pertumbuhan 7 Persen 2010 Bukan Mustahil Namun Ambisius

June 10, 2009 · Leave a Comment

PUSATBARCODE :

Jakarta (ANTARA News – Rabu, 10 Juni 2009 00:10 WIB) – Pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen pada 2010 bukan hal mustahil namun dinilai terlalu ambisius di tengah dampak krisis global yang belum sepenuhnya pulih.

“Yang disepakati di Komisi XI DPR untuk asumsi pertumbuhan ekonomi 2010 itu 5-6 persen, artinya kalau optimis akan mengarah ke 6 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 7 persen bukan hal mustahil namun hal itu juga akan tergantung dari kondisi internal dan eksternal.

Di sisi internal kalau semua mesin pertumbuhan ekonomi sudah jalan, konsumsi, dan investasi bertambah kuat, maka bisa saja pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen.

“Juga bagaimana pengeluaran pemerintah termasuk stimulus fiskal, konsumsi masyarakat, supplay kebutuhan masyarakat bisa dijaga,” katanya.

Sementara itu dari sisi eksternal, kata Rusman, harus dilihat apakah perekonomian dunia sudah pulih sepenuhnya.

“Salah satu mesin pertumbuhan ekonomi adalah ekspor, sehingga negara-negara pengimpor juga harus sudah pulih dulu, kalau negara-negara pengimpor belum sembuh, ya susah,” katanya.

Menurut dia, yang juga perlu mendapat perhatian adalah apakah dampak krisis ekonomi global sudah mencapai puncaknya pada 2009 ini.

“Kalau 2009 ini sudah mencapai titik terendah maka lonjakan sedikit pun akan menjadi cukup tinggi,” katanya.

Mengenai adanya anggapan jika pertumbuhan ekonomi 2010 hanya ditetapkan sebesar 5-6 persen maka pemerintah tidak melakukan apa-apa, Rusman mengatakan, pertumbuhan ekonomi merupakan gabungan dari berbagai komponen ekonomi.

“Itu merupakan resultance berbagai komponen ekonomi, dan tidak ada yang bisa menentukan faktor ekonomi yang sifatnya eksternal,” katanya.

Komisi XI DPR dalam raker dengan pemerintah beberapa waktu lalu menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 5-6 persen, namun dalam rapat Panitia Anggaran DPR muncul desakan agar asumsi pertumbuhan ekonomi dinaikkan menjadi 7 persen.

Untuk tahun 2009, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4-4,5 persen.

Sementara itu lembaga internasional seperti IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 hanya akan mencapai sekitar 2,5 persen sementara untuk 2010 sebesar 3,5 persen. Namun kemudian IMF merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 menjadi 3-4 persen.(*)

Disadur dari : Antara

→ Leave a CommentCategories: Buying Guide · POS Peripherals · barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Rupiah Berapresiasi? Jangan Khawatir, kata Menkeu

June 9, 2009 · Leave a Comment

PUSATBARCODE :

Jakarta (ANTARA News – Senin, 8 Juni 2009 17:36 WIB) – Menkeu/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menyatakan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan penguatan rupiah hingga di bawah Rp10.000 yang terjadi akhir-akhir ini.

“Nilai tukar rupiah tidak akan jauh beda dengan asumsi yang telah ditetapkan, tidak perlu khawatir,” kata Menkeu ditemui di Gedung Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Senin.

Ia menyebutkan, jika dikaitkan dengan asumsi di APBN maka nilai tukar rupiah harus dilihat selama satu tahun.

“Kalau kita lihat selama minggu ini (kemarin), itu memang di bawah Rp10.000, tapi `overall` (keseluruhan) akan kita lihat rata-ratanya selama Januari-Desember,” katanya.

Pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah pada tahun 2009 akan berada pada kisaran Rp10.000 – Rp10.500 per dolar AS atau sesuai dengan asumsi bersama pemerintah dan Panitia Anggaran DPR dalam pembahasan awal RAPBN 2010.

Mengenai revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2009 oleh IMF dari semula 2,5 persen menjadi 3-4 persen, Menkeu sudah menduga bakal terjadi revisi seperti itu.

“Dalam memandang Indonesia, IMF menganggap konsumsi tidak setinggi yang kita prediksi,” katanya.

Sri menilai IMF telah memprediksi faktor pemilu dan dampak penurunan harga BBM yang memberi kontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi dan terlalu berlebihan memperkirakan dampak krisis global terhadap perekonomian Indonesia.

“Mereka melihat kondisi seluruh kawasan ASEAN merosot sangat tajam dan menganggap Indonesia tidak terkecuali, ternyata tidak,” katanya.

Selain itu, Indonesia memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan ekonomi China sehingga bisa mengendalikan ekspor tidak berkontraksi terlalu dalam.

Sri menuturkan, pada kuartal pertama 2009 ekspor nasional negatif 19 persen, namun pada kuartal dua dan tiga kontraksi ekspor ini akan mengecil karena dorongan pemulihan hubungan regional. (*)

Disadur dari : AntaraNews

→ Leave a CommentCategories: Buying Guide · POS Peripherals · barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Apotek Kimia Farma akan diwaralabakan

June 8, 2009 · Leave a Comment

PUSATBARCODE :

JAKARTA (Bisnis.com – Jumat, 05/06/2009 14:49 WIB): PT Kimia Farma Tbk akan mewaralabakan divisi apoteknya guna membantu meningkatkan pendapatan perusahaan.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Endang Suyarti Z.N mengatakan pihaknya akan mempersiapkan segala sesuatunya terkait dengan rencana mewaralabakan divisi apotek, termasuk masalah sistem teknologi informasi (TI) dan aturan main serta persyaratan waralaba itu sendiri.

“Waralaba ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan,” ujarnya kepada Bisnis.com seusai RUPS perseroan, kemarin.

Menurut dia, waralaba ini kemungkinan baru bisa diwujudkan pada tahun depan, mengingat banyak aspek yang harus dipersiapkan.

Direktur Keuangan Kimia Farma Rusdi Rosman menambahkan perseroan telah menyiapkan belanja modal untuk mendukung pembiayaan dalam rangka waralaba tadi, terutama perangkat teknologi informasi.

Menurut Endang, Kimia Farma sebenarnya telah menjalin kerja sama dengan pihak lain dalam pengelolaan apotek, namun sifatnya KSO (kerja sama operasi). “Sudah ada beberapa Apotek Kimia Farma yang kami-KSO-kan. Mulai tahun ini, kami berencana mengubah sistem kerja sama dengan pihak lain, yaitu melalui pola waralaba,” kata dia.(er)

oleh : Afriyanto
Disadur dari : Bisnis.com

→ Leave a CommentCategories: Buying Guide · POS Peripherals · barcode · berita · point of sale

Konsumen RI diduga akan banjiri GSS

June 5, 2009 · Leave a Comment

PUSATBARCODE :

JAKARTA (bisnis.com – Rabu, 03/06/2009 14:50 WIB): Singapore Tourism Board menyatakan optimistis The Great Singapore Sale (GSS) yang digelar sampai 26 Juli tetap akan dibanjiri konsumen dari Indonesia karena sejumlah merek memberikan potongan harga yang menggiurkan hingga 70%.

Chooi Yee Choong, Direktur Regional Asean Singapore Tourism Board, meyakini niat konsumen Indonesia mendatangi pesta diskon di Negeri Singa tidak akan surut meski tengah terjadi krisis ekonomi global.

“Kami yakin Indonesia, China, dan Australia akan tetap menjadi tiga peringkat teratas asal negara konsumen yang akan memburu produk selama GSS,” kata Chooi di sela-sela jumpa pers penyelenggaraan GGS 29 Mei-26 Juli hari ini.

Di samping memberikan potongan harga yang besar, selama GSS juga akan disuguhkan sejumlah atraksi hiburan yang menarik. Berbagai restoran juga menjadi salah satu tujuan konsumen Indonesia selama mengunjungi Singapura selagi pesta diskon.

Chooi mengatakan sejumlah paket yang disuguhkan selama GSS tidak cuma untuk aktivitas berbelanja, ini juga merupakan upaya Singapura untuk meningkakan daya tarik turis asing untuk mengunjungi negara itu .

“Berbelanja tidak hanya sekadar membeli tapi bisa lebih dari itu. Di samping berbelanja juga bisa berkembang jadi mendapatkan pengalaman gaya hidup,” tambahnya. (tw)

oleh : Linda T. Silitonga

Disadur dari : Bisnis.com

→ Leave a CommentCategories: Buying Guide · POS Peripherals · barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , , , , , ,

Soal Inflasi, BI Tak “Berkacamata Kuda”

June 4, 2009 · Leave a Comment

Jakarta (ANTARA News) – Gubernur Bank Indonesia Miranda S. Goeltom mengatakan bank sentral tIdak `memakai kacamata` dalam melihat perkembangan inflasi.

“Menyikapi inflasi 2010 yang kemungkinan lebih tinggi, kami tetap menjaga kebijakan moneter itu tidak bersifat narrow, dalam melihatnya tidak berkacamata kuda, kita lebih melihat jauh ke depan, karena kami perkirakan inflasi 2010 lebih tinggi dari 2009,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu.

Ia mengatakan, pada 2009, tekanan inflasi mereda seiring perlambatan ekonomi, namun pada 2010 kemungkinan inflasi tertekan kembali karena ekonomi pulih kembali.

Hal in terutama akibat dengan meningkatnya permintaan sebagai dampak dari stimulus ekonomi yang dilakukan berbagai negara.

“Bila mengamsumsikan ekonomi dunia mulai membaik, mungkin dalam periode berbeda-beda, mungkin Indonesia lebih awal pada 2010, sedangkan dunia pada kuartal III 2010,” katanya.

Ia menambahkan tekanan inflasi terutama berasal dari harga komoditas yang diperkirakan semakin meningkat pada 2010 dalam kisaran 5-6 persen di mana nilai tengahnya adalah lima plus minus satu persen.

Ia menambahkan, meski inflasi naik lagi namun tekanannya tidak akan terlalu kuat mengingat pemulihan masih dalam tahap dini.

Untuk 2009 inflasi yakin berada pada sekitar 5 persen, demikian Miranda.(*)

→ Leave a CommentCategories: barcode · berita
Tagged: , , , , , , , , , ,

PusatBarcode : Menko Perekonomian Mulai Rerformasi Birokrasi Pada 2009

December 13, 2008 · Leave a Comment

PUSATBARCODE.COM :

Jakarta, 5/12/2008 (Kominfo Newsroom) – Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan Kementerian Koordinator Perekonomian akan memulai pelaksanaan Reformasi Birokrasi pada tahun 2009.

“Itu (reformasi birokrasi) akan dimulai tahun depan,” kata Sri Mulyani pada pelantikan pejabat eselon II, III dan IV jajaran Menko Perekonomian di gedung Depkeu Jakarta, Jumat (5/12).

Pada dasarnya, pelaksanaan reformasi di kementrian tersebut tidak akan serumit Departemen Keuangan (Depkeu), karena unit kerja yang ada serta jumlah pegawainya tidak sebesar di Depkeu.

Menurutnya, dengan jumlah eselon yang hanya 7 unit dan jumlah pegawai 300 orang, proses reformasi bisa dijalankan lebih mudah. “Tapi yang kecil ini justru rentan kegagalan, karena biasanya kita menganggap enteng sehingga probabilitas kegagalan sangat besar,” tegasnya.

Reformasi birokrasi tersebut perlu segera dilakukan, mengingat keadaan perekonomian yang sedang tertekan, dan kantor menko perekonomian menjadi andalan dalam proses pembuatan keputusan, perencanaan, sinkronisasi pelaksanaan dan evaluasi dampak formulasi kebijakan ekonomi.

“Itulah sebabnya saya minta reformasi birokrasi harus segera dilakukan dengan proses yang cepat,” katanya.(T.Ia/toeb/b)

Disadur dari : Jakstop

→ Leave a CommentCategories: barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , ,

Linear Image ungguli Laser Barcode

December 11, 2008 · Leave a Comment

PUSATBARCODE.COM – Linear Image ungguli Laser Barcode

Jika anda sudah pernah memakai barcode scanner, pasti anda sudah mengetahui kebanyakan barcode scanner menggunakan teknologi barcode scanner atau menggunakan teknologi CCD.

TEKNOLOGI LASER
Teknologi Laser menggunakan dioda laser berkekuatan 650ns. Laser ini sebenarnya setara dengan kekuatan laser pada pointer untuk presentasi. Prinsipnya dengan menambahkan sebuah motor yang bergerak ke kiri dan kanan secara cepat, maka titik laser akan membentuk sebuah garis. Garis laser ini yang akan membaca barcode dan menterjemahkannya ke dalam sandi ASCII. Karena barcode laser menggunakan motor, maka barcode scanner jenis ini menjadi rentan rusak jika terjatuh. Walaupun beberapa produk sudah diuji drop test 1 – 1.5 M pada concentrate drop test, namun tetap saja rentan dibanding menggunakan teknologi CCD. Kelemahan barcode scanner Laser lainnya adalah tidak bisa untuk membaca barcode 2D, padahal barcode jenis ini mulai banyak digunakan oleh industri manufaktur besar, seperti Seagate Hard Disk, Sony, dan Matsuhita.

TEKNOLOGI CCD
Teknologi CCD menggunakan sinar infra red dan berbeda dengan sistem laser, menggunakan teknologi CCD seperti yang dipakai pada kamera. Kepekaan pembacaan CCD masih dibawah sistem Laser. Apalagi bagi orang yang bisa menggunakan sistem laser, dimana cara scanning barcode harus tegak lurus, maka harus mengubah kebiasaan – karena pada CCD justru pembacaannya menggunakan tidak perlu tegak lurus, namun menggunakan sudut. Pembacaan dengan scanner CCD juga mensyaratkan supaya sinar dan obyek barcode didekatkan atau ditempelkan pada jarak maksimal 2 cm. Jenis barcode scanner CCD jauh lebih kuat dan tahan banting.

Membandingkan kepekaan CCD dengan laser juga harus dilihat dari resolusi CCD. CCD model lama masih menggunakan 1000 pixel. Sedangkan CCD berkualitas sudah menggunakan teknologi 2000pixel. Teknologi 2MP memungkinkan scanning CCD bisa sampai pada jangkauan 20cm, disebut dengan kelas Mid Range CCD atau pembacaan sampai 30cm disebut dengan kelas long Range Scan Distance CCD.

TEKNOLOGI LINEAR IMAGER
Teknologi terbaru adalah dengan menggunakan linear imager red lead. Dengan mengusung kapasitas mulai 2000-2500pixel, teknologi ini menggabungkan kepekaan Laser, kekuatan CCD dan masih ditambah kemampuan untuk membaca barcode 2D. Beberapa vendor barcode scanner terkemuka mulai menggunakan teknologi ini, yaitu Datalogic (dahulu PSC), Metrologic, Symbol, HHP, Postronix, dan lain-lain. Bahkan salah satu pelopor DataLogic, sudah menghentikan produksi barcode jenis CCD dan Laser, serta mengganti dengan teknologi Linear Imager.

Jelas bahwa teknologi Linear Imager akan menggantikan produk-produk barcode scanner yang ada saat ini. Beberapa produk yang sudah lazim di Indonesia:

Datalogic PSC QS2500 (Generasi pertama Linear Imager, masih kurang peka)
Datalogic Heron PS-130 (Barcode scanner berkualitas dari DataLogic)
Datalogic PSC QS6500 (Pengganti PSC QS-6000 laser yang sangat fenomenal)
Metrologic MS1890 (Produk berkualitas dari Metrologic. Salah satu Linear Imager terbaik)
Postronix Proxima (Linear Imager pertama dengan 2.5MP, performa superior)
Honeywell IT3800g
Intermec SR30

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.

www.fastechindo.com

Sumber : FASTECHINDO

→ Leave a CommentCategories: POS Peripherals · barcode · berita · point of sale
Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

Mari mengenal Barcode Scanner – PUSATBARCODE.COM

November 20, 2008 · Leave a Comment

PUSATBARCODE.COM – Mari Mengenal Barcode Scanner

Barcode scanner adalah alat yang digunakan untuk membaca kode-kode berbentuk garis-garis vertikal (disebut dengan BARCODE) yang terdapat pada kebanyakan produk-produk consumer good. Penggunaan barcode scanner ini mempunyai dua keuntungan tambahan. Yang pertama akan memperkecil kesalahan input yang disebabkan kesalahan operator komputer atau kasir. Yang kedua, penggunaan barcode scanner mempercepat proses entry data, sehingga mengurangi jumlah antrian yang panjang

Tanpa barcode, dahulu kasir memasukkan penjualan di komputer dengan bantuan nama barang atau kode barang. Nama barang memang dirasa lebih memperkecil kemungkinan kesalahan. Namun kerugiannya, waktu entry akan sangat lama karena kasir akan menngetikkan lebih banyak karakter.

Kemudian digunakan sistem pengkodean, dimana setiap barang dikodekan dalam sejumlah digit angka. Misalnya produk A mempunyai kode 00001, produk B mempunyai kode 00002, dan seterusnya. Hal ini mempercepat waktu pelayanan dibandingkan menggunakan nama barang. Kerugiannya adalah kesalahan 1 digit saja, akan menyebabkan kesalahan data. Sebagai contoh, kasir melakukan penjualan barang A. Saat memasukkan di komputer, seharusnya kasir memasukkan kode 00001. Namun karena suatu kelalaian yang dia masukkan adalah 00002. Bisa dibayangkan terjadi kesalahan yang menyebabkan :

1. Pembeli dirugikan jika ternyata harga produk A sebenarnya lebih murah daripada produk B. Atau bisa-bisa perusahaan yang dirugikan jika terjadi sebaliknya.
2. Stok menjadi salah. Secara komputer, baik produk A maupun produk B akan mengalami selisih antara stok di komputer dan stok fisik.

Akhirnya ditemukan barcode. Barcode lebih efektif digunakan, karena kebanyakan produsen telah meletakkan kode barcode dalam produk yang mereka produksi. Kode barcode sebenarnya juga adalah sederetan angka, namun direpresentasikan dalam bentuk garis-garis melintang. (Jika kode barcode masih berupa angka, berarti setiap kali terjadi penjualan, kasir tetap harus memasukkan kombinasi angka-angka tersebut). Namun karena kode angka barcode telah direpresentasikan dalam bentuk garis-garis hitam, maka dapat diciptakan sebuah alat yang mampu menterjemahkan kode-kode berbentuk garis tadi menjadi kode berbentuk angka. Jika anda tertarik mempelajari, cara kerja bagaimana sebuah alat mampu menterjemahkan dari kode garis menjadi kode angka, kami akan memposting artikel mengenai hal itu pada kesempatan berikutnya.

Nomor barcode pun secara teori tidak mungkin kembar. Hal ini karena sebelum produsen/pabrik dapat meletakkan sebuah barcode pada produknya, dia harus mendaftarkan kode angka dan barcode ke sebuah lembaga internasional. di Indonesia untuk mendaftarkan barcode wajib melalui deperindag, kemudian deperindag mendaftarkannya kepada lembaga internasional. Kode ini bersifat unik di seluruh dunia, karena juga mengandung kode negara. Misalnya untuk jenis barcode EAN, Indonesia mempunyai kode awalan 888 dan 899. Jadi dapat dipastikan jika anda melihat barang dengan kode barcode awal adalah 899, maka produk tersebut diproduksi di Indonesia.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

→ Leave a CommentCategories: barcode
Tagged: , , , , , , , ,

Mari Mengenal Barcode Printer

November 19, 2008 · Leave a Comment

PUSATBARCODE.COM – Mari Mengenal Barcode Printer

Barcode printer adalah jenis printer dengan pengelompokan berdasarkan kegunaannya, yaitu untuk mencetak label barcode. Jika anda masih belum tahu apa itu barcode, silakan klik di link : Definisi barcode.

Barcode printer
pada umumnya adalah printer dengan teknologi thermal atau pemanasan. Barcode printer mencetak di kertas atau bahan lain dengan memanaskan bahan atau kertas tadi sehingga menjadi gosong (baca: terbakar). Apabila anda pernah menggunakan mesin ATM bank, maka sistem pencetakan label barcode juga sama seperti itu. Tulisan yang tercetak pada kertas ATM bank terbentuk dari pemanasan. (Catatan: Ada beberapa ATM kuno yang belum menggunakan teknologi thermal. Anda bisa mengenalinya demikian: pada saat mencetak struk, jika ATM mengeluarkan suara berderik kasar, maka mesin ATM tersebut belum menggunakan teknologi thermal). Jika anda ingin mengetahui cara kerja pemanasan tadi, cobalah meletakkan api dari korek api kira-kita 5cm dibawah kertas struk ATM. Maka kertas tadi akan cepat menjadi hitam. (Tentunya kertas biasa pun lama-lama akan menjadi hitam, namun reaksinya tidak secepat kertas thermal).

Printer barcode dengan jenis yang dibicarakan di atas adalah printer dengan teknologi DIRECT THERMAL. Artinya kertas atau bahan dipanaskan langsung oleh thermal head (bagian pemanas) dari printer. Kelemahan jenis direct thermal ini adalah bahwa hasil cetak mudah pudar atau rusak, karena terpengaruh suhu.

Cara kerja kedua disebut dengan THERMAL TRANSFER. Teknologi ini juga digunakan oleh alat cetak atau printer foto profesional. Intinya pada printer ini selain menggunakan kertas, juga menggunakan media yang disebut RIBBON. Ribbon inilah yang dipanaskan, sehingga warna dari ribbon akan lengket (transfer) ke kertas atau media. Hasil cetaknya jelas sudah tidak terpengaruh suhu, karena prinsipnya adalah pelengketan dengan panas.

Kalau anda masih bingung cara kerjanya, ini sangat mirip dengan stiker tempel yang dulu pernah terkenal dengan merek RUGOS. Bedanya kalau pada rugos, pemindahan ribbon (tulisan di Rugos) ke kertas adalah dengan penggosokan; kalau pada thermal transfer adalah dengan pemanasan.

Yang membedakan printer barcode dengan printer biasa juga adalah jenis packing kertas. Kalau printer pada umumnya menggunakan sistem lembaran (flat paper), printer barcode memakai sistem roll paper (kertas bergulung). Mungkin anda bertanya mengapa dengan roll paper? Misalnya jika anda hanya ingin mencetak 5 buah label barcode dengan ukuran stiker 2cm x 3cm, bayangkan jika anda memakai sistem paper A4. Akan banyak sekali kertas yang dibuang.

Namun demikian, karena harga printer barcode masih relatif mahal, banyak orang tetap menggunakan printer biasa. Jika ini adalah pilihan anda, gunakan printer laser.

Saat ini sudah ada software FastBarcode yang bisa mencetak pada baris dan kolom tertentu pada kertas flat paper, sehingga tidak akan ada kertas yang terbuang. Saat ini harga printer barcode sudah semakin murah. Dan ada beberapa merek dengan harga terjangkau dan kami rekomendasikan seperti produk dari Taiwan SemiConductor atau TSC.

Jika barcode printer adalah pilihan anda, maka anda harus mengetahui satu hal lagi yang disebut dengan media type sensor. Sebelumnya anda harus tahu dulu bentuk dari barcode paper roll. Bayangkan sebuah gulungan kertas yang terdiri dari stiker label. Label ini nantinya akan dikelupas untuk ditempelkan pada produk anda. Antara label pada baris pertama dengan baris berikutnya dipisahkan oleh sebuah jarak atau disebut GAP. Setiap kali mencetak, printer barcode juga akan menembakan sinar dari arah atas ke arah bawah, yaitu melalui kertas . Jika yang ditembak adalah pada bagian kertas, maka sinar tidak akan menembus sensor bagian bawah. Namun jika yang ditembak adalah bagian GAP yang berupa kertas pelapis yang tipis, maka sensor bagian bawah akan menangkap sinar tersebut dan memberitahukan pada printer, bahwa setelah ini adalah proses pencetakan label berikutnya. Sistem ini disebut dengan penyinaran transmisi atau lazim disebut sensor TRANSMITIVE.

Sensor jenis kedua yang lazim digunakan disebut dengan REFLECTIVE. Kalau pada transmitive, memerlukan kertas dengan GAP, pada reflective tidak memerlukan GAP. Sebagai gantinya bagian belakang kertas Roll ditandai dengan blok warna hitam (disebut BLACK MARK). Kali ini cahaya dari arah bawah ditembakkan ke bagian belakang kertas. Jika mengenai warna hitam, cahaya akan terserap dan sensor akan mengenali bahwa itu tanda untuk mencetak pada baris atau label berikutnya.

Memang tampaknya cukup rumit. Namun setelah anda membeli sebuah barcode printer, akan menjadi jelas semuanya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Untuk memilih printer barcode yang tepat silakan baca artikel di bawah ini:

TIPS MEMILIH BARCODE PRINTER

→ Leave a CommentCategories: barcode
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,