JAKARTA – Selama ini rumput laut kebanyakan digunakan hanya untuk makanan dan sebagian kecil untuk produk kosmetik. Padahal rumput laut sangat strategis dijadikan bahan bakar nabati.
Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pusdatin KKP) Soen’an H Poernomo dalam keterangan tertulis, Jumat (5/11), menyebutkan, rumput laut harus dijadikan prioritas antara lain karena bahan bakar fosil dipastikan akan habis. Selain itu, tenaga surya terkena dampak perubahan iklim di wilayah tropis dengan semakin banyak hujan.
Adapun bahan bakar biofuel dari tanaman darat, akan bersaing dengan program ketahanan pangan dan persaingan penggunaan lahan tanah dengan pemukiman. “Di lain hal, negeri kita jelas merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki pantai terpanjang di dunia,” kata Soen’an.
Pemerintah optimistis bahwa target peningkatan produksi rumput laut dapat meningkat dari sekitar 2,6 juta ton pada 2010 menjadi sekitar 10 juta ton 2014. “Prospek rumput laut cukup cerah, apalagi Indonesia adalah sebagai negara penghasil rumput laut terbesar di dunia, yakni yang tercatat sebesar 1.021.143 ton,” kata Soen’an.
Menurut dia, Indonesia dapat mencontoh strategi politik energi Korea Selatan yang menyadari keterbatasan kepemilikan bahan bakar fosil, maka mereka mengandalkan energi dari rumput laut untuk masa depannya. Korean Institute of Technology (Kitech), lanjutnya, juga telah menginginkan untuk bekerja sama dalam membuat model pemanfaatan rumput laut sebagai bahan bakar. ant
Disadur dari : SurabayaPost

