Daya Saing Jatim Rendah

PUSATBARCODE :

95 Persen Proyek Swasta Digarap Kontraktor Luar

SURABAYA [Jum’at, 12 Juni 2009] – Proyek-proyek besar sektor properti milik swasta di Jatim nyaris tidak ada yang bisa dinikmati kontraktor lokal provinsi ini. Kalau pun ada, jumlahnya tidak lebih dari lima persen.

Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Daerah Jatim Erlangga Satriagung, kondisi itu terjadi karena rendahnya daya saing dan minimnya sumber daya yang dimiliki. “Lemahnya daya saing juga terjadi karena minimnya keberanian para kontraktor di Jatim untuk ikut dalam tender proyek-proyek besar,” kata Erlangga dalam Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) LPJK Daerah Jatim di Hotel Mercure Grand Mirama kemarin (11/6).

Dia menambahkan, kontraktor lokal lebih banyak menunggu proyek-proyek pemerintah yang nilainya juga tidak seberapa besar. Sedangkan proyek pemerintah yang nilainya besar tetap digarap kontraktor luar Jatim.

Saat ini, di Jatim terdapat 16.281 badan usaha konstruksi yang terdaftar di LPJK. Sebanyak 15.355 atau 95,4 persen ada di tingkat kualifikasi kecil. Sisanya 925 badan usaha berkualifikasi besar. “Mayoritas menggarap proyek general atau tidak spesialis jenis tertentu,” ujarnya.

Kurangnya daya saing itu juga diindikasikan dari minimnya jumlah tenaga ahli besertifikat di Jatim. Dari total 10.026 tenaga ahli yang tercatat di LPJK, hanya 2.538 orang yang mengikuti uji kompetensi.

Begitu juga dengan tenaga terampil. Sejak 2004 hingga 2008, sebanyak 44.297 orang mengikuti kompetensi kumulatif, atau 8.858 orang per tahun. Parahnya, catatan akhir 2008 menunjukkan bahwa jumlah tenaga terampil besertifikat menyusut menjadi 23.024 orang. Itu terjadi karena ada yang berpindah tempat, meninggal, atau pun tidak memperbarui uji kompetensi. “Di Jatim sendiri membutuhkan 815 ribu tenaga ahli maupun terampil per tahun. Jadi, tenaga yang ada masih jauh dari cukup,” terang Erlangga.

Dia menjelaskan, sebenarnya di Jatim sangat banyak tenaga ahli atau pun terampil, namun belum besertifikat. Artinya, mereka bekerja tanpa ada pengakuan kualitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mendongkrak citra maupun daya saing perusahaan konstruksi. “Jika itu terus terjadi, kami khawatir badan usaha konstruksi Jatim akan semakin terpuruk saat kontraktor asing masuk,” katanya. (luq/fat)

Disadur dari : JawaPos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s