Harga Komoditas Mulai Naik, Dorong Inflasi ke Tingkat 0,15 Persen

PUSATBARCODE.COM :
Kepercayaan Konsumen Stabil

JAKARTA – Tren melandainya harga pada Februari dan Maret kini mulai berbalik. Sepanjang April lalu, harga berbagai komoditas mulai merangkak naik, mendorong inflasi ke tingkat 0,15 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, pemicu utama inflasi sepanjang April lalu adalah kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan yang menyumbang inflasi hingga 0,33 persen. ”Sebenarnya, kita berharap ada deflasi pada April. Tapi, ternyata malah inflasi. Ini gara-gara komoditas yang volatile dan meroket,” ujarnya di Kantor BPS kemarin (3/5).

Selain bahan makanan, penyumbang inflasi lain adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,24 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,10 persen; kelompok sandang 0,14 persen; kelompok kesehatan 0,17 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,01 persen; serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04 persen.

Dengan inflasi April yang sebesar 0,15 persen, maka laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2010 sebesar 1,15 persen. Adapun laju inflasi year on year (April 2010 terhadap April 2009) sebesar 3,91 persen. ”Jika dikaitkan dengan target pemerintah (dalam APBNP 2010) sebesar 5,3 persen, inflasi kita masih pada tingkat aman,” jelasnya.

Data BPS menunjukkan, dari total 66 kota, 45 kota mengalami inflasi dan 21 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 2,04 persen dan terendah terjadi di Palembang sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tarakan 2,08 persen dan terendah terjadi di Jambi 0,02 persen.

Rusman menyebut, beberapa komoditas yang harganya naik selama April 2010, antara lain, cabai merah, bawang putih, tomat sayur, bawang merah, rokok kretek filter, telur ayam ras, kacang panjang, ketimun, kol putih/kubis, sawi hijau, jeruk, tomat buah, nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok putih, besi beton, dan upah tukang, bukan mandor.

Sedangkan komoditas yang harganya turun adalah beras, ikan segar, daging ayam ras, gula pasir, cabai rawit, dan minyak goreng. ”Harga beras turun karena masih euforia panen raya. Gula pasir juga menyumbang deflasi karena harganya di bawah Rp 10.000 per kilogram,” terangnya.

Sementara itu, riset Danareksa Research Institute (DRI) menunjukkan indeks kepercayaan konsumen (IKK) pada periode April masih stabil di posisi 86,9. Kepala Riset Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, secara umum, konsumen meyakini bahwa keadaan ekonomi saat ini semakin membaik. ”Tapi, konsumen masih merasa terbebani tingginya harga bahan makanan,” ujarnya melalui siaran pers kemarin.

Data Danareksa menunjukkan, 64,4 persen konsumen yang disurvei mengaku masih khawatir terhadap tingginya harga bahan makanan. Angka itu sedikit turun jika dibandingkan dengan hasil survei pada Maret yang berada di angka 66,5 persen.

Menurut Purbaya, dua komponen utama yang membentuk IKK menunjukkan hasil berbeda. Pertama, komponen yang menunjukkan keadaan saat ini, indeks situasi sekarang (ISS), turun 0,8 persen menjadi 67,4 pada April. Namun, komponen IKK yang menunjukkan keadaan masa depan, yakni indeks ekspektasi (IE), naik 0,5 persen menjadi 101,4. (owi/c3/fat)

disadur dari : Jawapos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s