Jaga Pendapatan Petani, Daerah Tolak Pasar Murah << Pusat Barcode & Mesin Kasir

PUSATBARCODE.COM :

Harga Sembako Naik Rata-Rata 5 Persen

JAKARTA – Pasar murah dan operasi pasar yang menjadi andalan pemerintah menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok belum tentu menarik minat semua pihak. Beberapa daerah menolak dengan alasan menjaga pendapatan petani di wilayahnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo mengatakan, pasar murah memang harus mendapatkan persetujuan pemerintah daerah (pemda). “Karena itu, sebelum bikin pasar murah, kami selalu berkoordinasi dengan pemda,” ujar Subagyo di kantornya kemarin (30/7).

Subagyo menegaskan, pasar murah bukanlah untuk menurunkan harga. “Karena itu, tidak semua daerah menyetujui karena masyarakatnya masih dinilai mampu serta untuk menjaga pendapatan petani dan pedagang,” ungkapnya. Hal itu juga terjadi pada operasi pasar yang bertujuan hampir sama dengan pasar murah. Sejauh ini, operasi operasi pasar lebih banyak dilakukan untuk menghadapi kenaikan harga beras. “Standarnya itu adalah Rp 400-Rp 500 lebih rendah daripada harga di pasar per liternya,” ujar Subagyo.

Kenyataannya, kata Subagyo, di pasar sudah terjadi kenaikan harga beras premium Rp 1.000-Rp 1.500 per liter. “Tapi, ada pemda yang nggak mau (diadakan operasi pasar) karena mengganggap harganya belum terlalu tinggi dan dia akan menggunakan beras raskin,” paparnya.

Seperti di daerah Jawa Tengah, kata Subagyo, pemda memilih menggunakan beras raskin untuk menanggulangi kesulitan masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa tetap mendapatkan beras. “Bengkulu juga tidak mau operasi pasar karena ingin memberikan kesempatan kepada petani. Faktanya masih dibeli masyarakat sana, meski ada kenaikan,” jelasnya.

Pemda yang menolak dilakukan operasi pasar juga beralasan bahwa jika dilakukan, harga normal akan terdorong menjadi rendah. “Itu dinilai akan menyebabkan masyarakatnya sulit sebagian (terutama pedagang, Red),” ungkapnya.

Sementara itu, rata-rata harga sejumlah barang kebutuhan pokok di pasar dalam negeri saat ini mulai naik 3 persen-5 persen jika dibandingkan dengan harga pada Juni. Meski demikian, kenaikan harga tersebut dinilai masih wajar karena mengikuti kenaikan permintaan terhadap sejumlah barang kebutuhan pokok menjelang puasa dan Lebaran.

Subagyo mengatakan, kenaikan harga untuk beberapa barang kebutuhan pokok sebenarnya belum begitu besar. Namun, karena dipicu kenaikan harga cabai dan beras yang cukup ekstrem, rata-rata kenaikan harga cukup tinggi. Berdasar data Kementerian Perdagangan, rata-rata harga cabai merah keriting pada Juli mencapai Rp 34.108 per kilogram. Jika dibandingkan dengan harga rata-rata pada Juni, harga tersebut naik 30 persen lebih.

Harga beras medium naik 3,6 persen menjadi Rp 6.500 per kilogram jika dibandingkan dengan rata-rata selama Juni Rp 6.270 per kilogram. Beberapa barang kebutuhan pokok yang juga mengalami kenaikan harga adalah gula pasir, daging sapi, daging ayam, dan bawang merah.

Sementara itu, untuk komoditas cabai, dia memperkirakan, harga masih cenderung fluktuatif. Dia mengakui bahwa harga komoditas tersebut mulai menurun sejak satu minggu terakhir. Namun, kata dia, penurunan harga cabai tersebut hanya bersifat sementara karena ketersediaan pasokan. “Kalau suplainya kurang, bisa jadi harga akan melambung. Intinya adalah bergantung pada suplai,” tuturnya. (gen/c6/kim)

Disadur dari :  Jawa Pos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s